Bagaimakah sesungguhnya para dosen Anda menilai karya tulis ilmiah Anda? Jawabannya tentu bervariasi. Ada yang menggunakan pendekatan Objektif, dan ada juga yang menggunakan pendekatan Subjektif. Pendekatan Objektif dan Subjektif ini, terbagi lagi dengan pendekatan “Objektif berat dan Subjektif Berat”.

Apa yang dimaksud dengan “Objektif berat dan Subjektif berat?” Penilaian dengan pendekatan objektif berat adalah prilaku atau cara seorang dosen memberikan penilaian dengan memberikan penekanan kepada kualitas karya tulis yang benar-benar mencerminkan upaya berat penulisnya, sehingga melahirkan jenis penilaian yang penentunya ada pada diri mahasiswa itu sendiri. Di samping itu pengertian lainnya adalah penilaian yang diberikan agar mahasiswa memahami bahwa seorang dosen akan memberi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh kesempatan secara mandiri menghasilkan karya tulis yang sungguh-sungguh menekankan kesiapan mempertanggungjawabkan tulisan/karya ilmiahnya.

Bagaimana dengan Subjektif berat? Tentu instrumen utamanya adalah keseluruhan kedirian sang dosen tanpa memberatkan penilaian pada kualitas pekerjaan Mahasiswa. Kedirian dosen tersebut dapat berupa kerangka pikir/ prinsip sang dosen dan kadar sensivitas hati/perasaannya. Jika dosen memberikan nilai pada karya tulis dengan pendekatan prinsip maka hasil penilaian akan tergantung pada prinsip apa yang ia anut. Misalkan, sekalipun pekerjaan mahasiswa tidak memuaskan, namun jika prinsip sang dosen adalah asal pekerjaan mahasiswa menunjukkan kadar progresivitas yang cukup, maka sudah layak memberika nilai tertentu. Begitu juga dengan keadaan sensivitas hati. Seorang dosen yang melihat perjuangan mahasiswa begitu gigih, maka Ia akan puas bercampur berempati untuk meluluskan atau memberikan nilai tertentu.

Tentu banyak ragam dosen menilai karya tulis mahasiswanya. Dalam tulisan ini saya hanya akan menggaris bawahi bahwa apapun nilai yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, ia perlu tahu/perlu menebak bahwa nilai kelulusan karya tulisnya masuk dalam kategori apa? Apakah berdasarkan Obektivitas berat atau subjektivitas berat?

Dalam satu percakapan para dosen, saya mendengar salah seorang dosen senior mengatakan bahwa saya tidak akan pernah memberikan seorang mahasiswa saya nilai A penuh. Selalu paling top A- dan jauh lebih ke nilai B. Alasannya sederhana, tidak ada pekerjaan karya Tulis yang sempurna. Dan mahasiswa itu perlu tahu bahwa ia harus selalu bekerja dan bekerja dengan keras.

Tentu pandangan dosen ini akan memperoleh banyak respon yang berbeda. Intinya adalah bahwa tidak semua dosen dalam suatu perguruan tinggi memiliki keseragaman dalam menilai. Jadi kita juga perlu memahami bahwa nilai A yang diperoleh seorang mahasiswa yang satu dapat berati sama kualitasnya dengan mahasiswa lainnya yang diberikan nilai B oleh dosen berbeda.

Setidaknya, mahasiswa tidak perlu hanyut, namun tidak juga harus memandang sebelah mata cara penilaian dosen tertentu. Semuanya itu, sebagai mahasiswa, kembalikan saja pada keyakinak diri¬† sendiri bagaimana kadar mutu karya-karyanya. Belajarlah dengan sebaik-baiknya, secara prinsip Seorang mahasiswa perlu membangun prinsip intelektualitasnya sendiri yang tidak terlalu atau selalu membawa-bawa romantisme “NILAI” yang diperolehnya dari dosen, namun perlu mengevaluasi seberapa besar “NILAI” yang dapat diberikannya kelak bagi dirinya atau orang lain sebagai mahasiswa atau sarjana pembelajar. Mahasiswa¬† boleh kehilangan nilai A dalam proses perkuliahan, namun ia tidak boleh kehilangan prinsip dalam membangun intelektualitasnya.