Membangun Kekayaan Finansial

Memang kaya bukanlah faktor utama untuk mengukur derajat kesejahteraan lahir batin. Namun betapa kelirunya jika hal memiliki kekayaan finansial disepelehkan dan diperbincangkan seolah sesuatu yang bertentangan dengan hal-hal keagamaan, atau dengan prinsip-prinsip kebersahajaan. Mungkin saja Anda pernah mendengar tuturan, “Kesederhanaan adalah ukuran gaya hidup.” Implikasinya seseorang menerapkan hidup yang menghindar dari semua pengeluaran uang untuk semua jenis property atau benda-benda lux. Bahkan menempatkan seseorang yang menginvestasikan uang untuk benda tersebut sebagai pribadi yang menerapkan gaya hidup negatif. Karenanya semua mereka yang hidup dalam kemewahan harta benda dipandang secara “rendah”. Untuk membangun budaya menghargai kekayayaan finansil setidaknya perlu kita mulai dengan hal sederhana, misalnya melek finansial.

Melek finansial merupakan istilah yang perlu diberi bobot untuk membangun kesadaran bahwa keuangan merupakan hal penting, strategis untuk membangun kehidupan yang baik. Kesadaran akan nilai uang dan bagaimana melakukan pertukaran yang dapat memperoleh kualitas kehidupan yang baik, surplus sungguh perlu diperhatikan. Dari mana memulai membangun kesadaran tersebut? Tentu dari memahami bahwa uang merupakan alat tukar yang disepakati. Bahwa setiap orang yang memiliki uang dengan nilai tertentu memiliki hak dan ruang yang luas untuk menukarkan uangnya dengan benda apa saja yang diinginkannya. Artinya, Anda dan saya memiliki ruang yang luas untuk memperoleh benda-benda yang telah kita timbang sebagai benda-benda yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Melek finansial lainnya adalah dengan mengetahui bahwa prinsip dasar pertukaran uang atau kekayaan adalah memberi seseorang apa yang mereka inginkan. Orang bukan saja mengingini uang tapi mereka membutukan barang dan jasa. Jadi intinya adalah barang dan jasa yang dibutuhkan. Adanya barang dan jasa yang dibutuhkan dengan sendirinya menghadirkan uang. Jadi tanpa harus melebih-lebihkan, keberadaan uang perlu dipandang dalam pengertian sebagai alat yang disepakati, diakui, memperoleh pengesahan untuk memperoleh apa yang sungguh-sungguh diinginkan atau dibutuhkan. Jadi bukan sebagai alat untuk menciptakan kejahatan.

Di luar kehidupan Anda dan saya, banyak orang yang sedang menunggu barang dan jasa kita. mereka memiliki uang untuk dipertukarkan. Sama persis dengan kita saat memiliki uang dan keinginan untuk selekasnya menukarkannya. Membangun kekayaan finansial selalu erat kaitannya dengan emmbangun kesadaran bahwa Anda dan saya memiliki sesuatu untuk dipasarkan. Sesuatu atau barang dan jasa yang tidak dapat dibuat atau dihasilkan oleh mereka. karena itu mereka membutuhkan campur tangan kita.

Untuk dapat menjadi pribadi yang menghasilkan barang dan jasa maka kita memiliki tanggungjawab untuk membangun diri kita, mendidik diri untuk mengerti apa yang perlu dikembangkan dari dalam diri kita. Untuk semua jenis bakat atau talenta yang ada dalam diri kita selalu akan terkait dengan kebutuhan kita dan juga orang lain. Tuhan tidak meletakkan sesuatu dalam diri kita dengan maksud sekedar memperlengkapi atau mendukung kehidupan kita sendiri. Intinya, kita ada untuk yang lainnya.

Membangun kekayaan finansial akhirnya sangat membutuh awalan yang baik dari sisi pemaham positif akan nilai dan manfaat uang bagi dayadukugn kehidupan kita. Tanpa kesadaran yang baik ini maka uang akan menjadi sesuatu yang sulit untuk mendatangi kita. Dengan positifnya pemahaman awal kita akan uang akan mendorong kita membangun sikap, tindakan yang positif. Dan tentunya hasil dan pemanfaatannya akan cenderung positif dan memberdayakan.