PLAKKK !

Plakk ! “Aduh !” Lelaki itu memegangi pipinya dengan warna muka memerah. Merah bukan saja karena darah mengalir ke area tamparan, tapi merah karena dialiri rasa malu.

“Tamparan ini untuk sikapmu, entah kedunguanmu. Mengapa baru hari ini kamu sanggup mengucapkan kata yang sudah kutunggu bermusim-musim. Kamu telah membelah cintaku. Dulu sepenuhnya hatiku untuk mu. Ketika aku meninggalkan asa hatiku untukmu dan merayap ke hati lain, kini kamu datang dengan muka lugumu itu mengucap kata yang seharusnya “haram” untuk kamu sebutkan. Aku kini Istri seorang perwira menegah di Negeri ini. Saat ini aku sedang melampaui kadar cintaku setengah hati itu.”

Plakk ! “Aduh !”

Mengapa kamu menamparku lagi?

“Kurang ajar kamu! Ucapan hatimu itu kini menyeret perasaanku yang setengah jadi dari Mayor itu yang saya nikahi karena pelarianku dari sangkaan bahwa kamu tidak punya hati sekalipun seukuran benih sesewai. Cinta dihatiku itu untuk mu itu masih ada tahu ! Dan sekarang kamu menyeretku kembali ke arus yang tidak kuasa kutahan.

“Anu !”

Plakkkk !

“Anu..anu apa? Bajingan kamu ! Sepenggal kata-katamu yang dulunya senyap   dengan siksaan hebat kutunggu meluncur dari mulutmu kini menjadi pelatuk yang memicu kebangkinan perasaanku. Tahukah kamu, kata-katamu itu bisa membuat jari-jari suamiku itu sanggup menarik pelatuk pistolnya untuk melesatkan peluru memburu “Cinta hitam”.

Plakkk ! Plakkk !

Tidak tahukah kamu, aku sedang mengandung benih, calon patriot bangsa yang telah diceritakan Mayor itu kepada rekan-rekannya sebagai penerusnya yang harus menjadi jendral Besar di Negeri Ini. Kini kamu, tanpa rem menabur kata berbisa yang bisa melumpuhkan nalar norma-norma agama, sosial. Bajingan kamu, tidak lama lagi, surat kabar akan mengendus perselingkuhan seorang Istri Mayor yang segera memperoleh promosi bintang di pundaknya.

Plakkk! Plakkk ! Plakkk!

Auuu..mengapa kamu menampar mukamu sendiri?

Brengsek kamu, kamu membuka peluang besar membuat aku melarikan diri dari Tuhanku, dari mereka yang mengasuhku ! Dari semua yang berusaha ku bangun !

Plakkk! Kain hitam perkabungan membalut peti mati, membentangkan misteri yang ditiup angin, ruh menebar dirinya, menjelajah sang waktu, menampar semua hati yang gagal memenuhi hatinya dengan cinta bulat !