PISAU

396152_2970900370717_968642617_nPisau itu bergetar hebat! berontak! Menggedor!

Brakkk! Lemari menganga, sejurus bayangan berkelebat, melesap, merayapi hitamnya malam. Tiada keraguan, menanjak, melompati pohon-pohon tinggi, tak terbendung.

Di dalam kamar sempit beraksesoris lux, migrasi ilegal. Keringat dingin meluncur deras menuruni batang leher dan dipagut pakaian berbahan khusus penyerap keringat. Malam telah memberinya aura kengerian hebat!

Dua malam sebelumnya, serantai pesan pendek mencabut biji matanya! ,” 2×24 jam ajal akan menjemputmu!”

Tiada identitas!

Pikirannya menjadi putih, tak setitik toktahpun menggurat. Segala keberaniannya melorot! Bila menghadapi diskusi atau debat sekalipun, tentulah segala daya dapat diperlawankan. Ancaman itu menyebar pusat perhatiannya menjadi setipis kabut! Semuanya menjadi terperhatikan. Tidak ada lagi fokus. Semua gerakan pantas dicurigai! Mahluk sebaik malaikatpun patut dicurigai! Mungkinkah Tuhan mengirimkan “malaikat maut”? Mestikah caranya dengan menebar teror? Tidakkah Tuhan tahu bahwa ia berencana mengucap tobat!

Para jurnalis sebulan-bulan ini terus saja memepetkan diri, bergadang di luar pagar rumahnya! Seperti tunawisma yang tidur berkelambukan angin malam. Meramu cerita berbahan data setengah fakta. Telah tersedia beberapa kalimat judul yang segera disematkan pada halaman terdepan “TERSANGKA BARU!”

Meooooong! Pranggg! Panci-panci import menghujam bersamaan pecahnya cangkir keramik bergambarkan pemain sepak bola jebolan piala dunia Afrika berantakan, serpihannya menebar, mengisi setiap garisan ubin.

Lelaki itu memegang dadanya! Lidah keluh menyebut nama Tuhan, sebab ia tahu belum lagi ia berucap tobat!

Sebagi seorang politisi, sesungguhnya ia telah terbiasa menerima gertak sambal. Itulah seninya menjadi politisi yang saling menyerang. Bila dinamika persuasif tidak mempan, teror bertindak!

Tapi entah kenapa teor kali ini tidak dapat ia jinakan dengan pikiran terbaiknya sekalipun. Ia bukalah seorang politisi yang matang dengan pengalaman, namun juga pikiran! Sudah banyak regulasi di negara ini merupakan buah memenangi pengaruh. Ia bukanlah generasi politisi selibritis, kadar intelektualnya berakar dari tradisi akademisi yang kuat dengan permainan teori-teori makro.

Siapa dibalik teror ini? Setan? Akh tak mungkin, sebab untuk sat ini ia memang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan setan! Tidak mungkin setan itu berkhianat padaku, pikirnya. Atau jangan-jangan Setan-setan itu tahu kalau didadanya suara tobat mulai membujuk.

Belum habis ia mengurai sebab, rumahnya bergetar hebat! “

Gempa!!! Teriaknya.

Bergegas menghampiri jendela dengan lapisan figura kaca bening. Dengan mata yang bingung, ia mencoba kembali mengurai penjelasan, menjawab tanya, “mengapa rumah-rumah tetangga tampak diam! Tak tersentuh goncangan gempa?

Belum lagi penjelasan terbingkai rapi, ia melihat sebuah benda terbang dengan kecepatan tinggi, melewati dinding kaca tanpa dapat dikenali wujudnya dan ia merasakan ada yang tertancap kuat di dadanya! Membelah bilik jantungnya dan menebar racun mematikan.

“PISAU!” Akhhhh darah segar menyembur tanpa arah.

“Siapa yang telah membunuhku!!!!” ia berteriak dan rebah seketika sebelum gema teriakan habis diresap angin malam!

PISAU itu kembali melesat, pulang ke kediamannya dengan darah yang semakin menghitamkan dosa-dosanya! Menunggu perintah berikutnya.