Murni Namaku

534020_463635473744263_388925180_n“Pap, Pap jangan lupa ya, besok malam “ngekosnya’ di rumah Murni ya.” Demikian pesan singkat Murni kepad Mr Zee. Ia mengingatkan kesepakatan mereka kala Murni menganggukkan hatinya untuk menjadi kekasih lain. Kekasih Mr Zee, seorang politisi muda yang pagi-pagi benar harus merubah perangai. Seorang politisi yang kicauan kampanyenya berhasil menaklukkan keluguan warga yang selalu menantikan sosok pembebas. Politisi yang kini tidak lagi  perduli apakah ia membeo, atau menjadi ekor dari kesepakatan-kesepakan hitam para senior. Sebuah perangai yang sesungguhnya tabu untuk dilakoni. Tapi itulah kenyataan yang tidak mampu ia tundukkan manakal niat luhur sebelum mencatatkan namanya sebagai salah satu petarung musim pemilu harus tergeser dengan desakan yang biasa disebut lumrah dikalangan “politisi”.

Murni sebuah nama yang ku sematkan untuk mengganti nama dalam ijazah, dalam akte kelahiranku. Sebuah nama pengganti yang bukan kumaksudkan sebagai nama pena layaknya seorang penulis atau nama artis yang memistiskan namaku agar bisa mendongkrak nilai jual. Ya, Murni adalah sekedar sepotong nama yang kupakai untuk menyadarkanku bahwa kehidupan yang  sedang ku lakoni murni sebagai sebuah kegairahan melucuti kebodohan para lelaki yang sering menyombongkan dirinya dengan segala atribut sosial-ekonominya. Nama yang tidak perlu kutulis dalam akte jual beli apapun. Apalagi harus di KTP-kan dengan tipu sana tipu sini, sogok sana-sogok sini. Setidaknya, “Aku dapat bersembunyi atau menyembunyikan banyak hal” dalam nama ini.”

Aku, Murni adalah perempuan seperti yang sekarang ini. Perempuan yang menjelma dari kebangkitan dari keterpurukan. Sebuah episode kehidupan masa silam yang sesak dengan segala kesuraman.

Kesuraman yang memerangkap, membinasakan harapan menjadi seorang wanita semata wayang dari seorang suami dalam ikatan tak terputuskan. Akan tetapi Nasib berkata lain, lelaki yang katanya Tegar itu sesungguhnya adalah lelaki lembek, lelaki yang kehilangan keteguhan hati oleh karena tipisnya prinsip hidup. lelaki yang kalah oleh desakan sistem. Lelaki yang kehilangan kekekarannya, kejantanannya pada desakan mengikuti sistem. lelaki yang yang berpikir bahwa untuk terhormat mesti bergelar PNS. Pun ketika jelas-jelas sistem mendorongnya masuk dalam perangkap korupsi berjemaah, ia seperti kerbau dicucuk hidung, kerbau yang tidak berdaya untuk disembelih masa depannya.

“Puihh, Akhirnya lelaki itu hanya mewariskan penderitaan pada kami. Aku dan anak semata wayangku.” Laki-laki yang bukan saja meninggalkan Aku dan anakku, tapi meninggalkan dunia oleh karena kalah dengan rasa malu. Waktu Sipir memberi tahu bahwa suamiku ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Waktu itulah jarum jam kehidupanku diputar 360 derajat.

Kini Mr Zee itulah laki-laki yang menemaniku, mengisi hari-hari yang semakin hitam. Hari-hari penuh kepura-puraan, petak umpat dengan perempuan yang katanya memiliki surat nikah yang sah. Tapi ini semua bukan salahku. Wanita itu sendiri yang mengubah jalan nasibnya. Salah satu wanita yang mudah berubah ketika kehidupan ekonominya berubah. Entah apa yang menyebabkan Mr Zee memungut diriku saat kehidupanku tercecer ke segala arah. Entah apapun pasalnya sehingga ia harus membagi malamnya bersamaku. Yang aku tahu, kami semakin melarut ke tempat dimana harga diri telah kehilangan nilainya. Bukan sebuah pilihan tapi sebuah akibat yang harus ditanggung oleh karena serangkaian sebab ! Murni namaku.

Yogya 15/1/15