Pohon

Copy of DSC08770Bila lelaki itu marah, garang, ia segera berlari kencang. Tangannya yang hanya dilapisi kulit setipis kulit apel memeluk batang terbesar dari pohon tua di desanya.

Ia memaksa, mendorong tubuhnya meninggi hingga dahan tertinggi. Di atas dahan tertinggi itulah ia meredam geram. Dibungkus dedaun pohon lebat ia merasakan hatinya dipeluk. Lesap segala resahnya.

Matanya berusaha mengintif dari celah sempit dedaunan pohon yang iba pada harap sepotong hati yang terbelah, rindu menatap masa depan yang belum lagi terang benderang.

Deru mesin penggiling padi berlomba menggilas bulir-bulir padi nan gemuk, bernas. Telinga lelaki itu bergerak-gerak liar menangkap keriangan petani desanya.

Berbulan lamanya ia membiarkan kulitnya dikerik oleh angin kering, bersisik dan berwarna gelap. Ribuan hujaman pacul menghantam bumi, tiap hujaman ia selalu menanamkan ke dalam pusaran bumi akan mantra keberhasilan panenan padinya. Sebelum benih padi terkubur, ia telah menanamkan harapan-harapan besar. Ia percaya kebangkitan masa depan akan tumbuh beriringan dengan bulir-bulir yang memecah. Dari benih menjadi tunas-tunas yang tumbuh hingga merantaikan barisan bulir padi yang padat berisi.

Di puncak pohon ini ia selalu mengadu, menutur keluh yang tak kunjung luluh. Selalu saja ketidakberuntungan mengejeknya. Ia marah, dan terlalu sering geram pada apa saja yang mendesaknya, mengambil mimpi-mimpi besarnya.

Kali ini ia marah, geram pada “koruptor-koruptor sawah” Generasi tikus yang menjatah pesta hajatan mantenan para tikus-tikus bujang yang menggadaikan satu hektar padi sawahnya sebagai mas kawin pernikahannya. Habis sudah, ludes, para tikus-tikus itu bak kesetanan, pamer kemewahan dengan mengundang tikus-tikus desa lain.

Geram tampak dikatupan gemeretak giginya. Sesekali ia bersoal jawab pada dewa langit. Mengapa engkau memberitahu mereka alamat sawahku! sehingga tikus-tikus itu berlagak sombong dengan memamerkan kekayaan yang bukan miliknya.

Tangan lelaki itu mengepal, keras bak palu yang siap menggodam kepala tikus-tikus setan itu! Akh andai saja aku tahu siapa pemimpin tikus itu, tentulah akan ku tinju hidung panjangnya. Ku cekik batang lehernya dan ku gantung di pokok batang-batang padi sebagai peringatan akan pelanggaran batas teritorial.

Akan kuculik tikus-tikus betinanya biar pejantan-pejantan tersebut merana dan saling melirik sesama jenis.

Tunggu pembalasanku……!

Lelaki itu memekik, melolong menebar kegerian di desa itu yang mulai menggelap karena sore telah menjemput para pekerja untuk segera mencuci tubuh dan siap-siap memasuki malam tenang, malam istirahat, malam bercanda, malam mengisahkan keberuntungan dan kebuntungan.

Lelaki itu turun perlahan dari pohon dan melebur ke dalam malam, berendam dalam mimpi-mimpi buruk yang semakin tak jelas ceritanya…