Hujan Desember

Kitab itu erat tepegang bukan saja oleh tangannya, tapi batinnya. Entah berapa kali sudah ia terpesona, hatinya bertabur bunga, pikirannya terendam basah oleh lompatan-lompatan logika yang silih berganti menyisakan kekaguman yang tidak kering mesti diperas sedemikian hingga.
Pikirannya baru saja berpisah dengan malaikat-malaikat yang mendiami setiap lembar kitab kepunyaannya, hadiah seorang Teolog muda yang putus nyawanya di rimba pelayanannya, yang tak sempat ia cintai sepenuh jiwa. Kasihankah Dia atau kasihankah Aku?

Berbayang pekat Tawa sarah yang menolak masa depan kandungannya setelah berdekade, ia tidak bunting-bunting juga. Sehingga kegilaan yang datang dari rasa malu tak terhingga membangunkan kegilaannya, dengannya restu bagi Hagar untuk berbagi setengah ranjang pembaringannya.

Akh biarlah..biarlah toh Aku bukan Sarah! Perihku bukanlah lukanya, sakitnya sudah pasti bukan deritaku. Memang kami sama-sama wanita berpisah zaman, terbelah oleh takdir masing-masing, tapi kami lahir dari nenek moyang yang sama…ya sama kejinya…sama berdosanya.

Kitab itu masih tercengkram erat di genggamannya, sembari ingatannya terperosok pada  sosok Rut yang tampak cantik dengan kesetiaan seorang mantu, berpandu kata mertuanya, atas restu memetik kehidupan baru pada bulir-bulir yang tersisa. Ia bukanlah remah-remah. Ia adalah perempuan suci yang patah oleh karena reotnya tubuh manusia sehingga ia dipaksa tanpa kuasa pasrah pada kesemestian. Tapi sudahlah Aku bukanlah Rut, Aku adalah diriku yang sekarang terkagum-kagum sekaligus dibalut kebencian!

Di pojok lentera dekat Pohon berindang! Aku berusaha mengeja hamburan cahaya kecil, pintu menembus kegelapan, segala ketidakpahaman. Sesekali cahaya lentera tersebut berbayang dibelakangi melesatnya hewan malam yang melintas dengan takdirnya, sebab siang hari ia mestiberdiam mengikuti irama alam, menunggu dengan sabar pergantian gerak.

Angin pelan mulai zig-zag berhembus! melambatkan nyamuk yang mengendap dengan kepakan ringan sayap untuk menyelam dalam kolam darah di tubuhku. Kubiarkan ia menghujamkan dirinya kedalam pori-pori kulit menembus pada batang aliran darahku, silahkan kataku!….sebab setiap darah yang kau hisap…engkau akan menghantarku pada sosok kekasihku…ya seorang teolog muda yang mati dikepadatan Hutan Kalimantan. Sebab karena bangsamulah…Aku telah membaca surat terakhir tentangnya…namun bukan untaian puisi hati yang kasmaran yang tertulis disana…Tapi surat kematian dan keterangan kematian! Jelas…sangat jelas…tertulis “MALARIA’!

Perlahan butir Air masa menggenang di sudut kelopak mata! perlahan bergulir membasahi sebuah Alkitab, apa yang tersisa darinya…dan setiap kali ia memeluk erat kitab itu, hatinya tentram, setentram hujan Desember, tepat bulan kematian kekasih hatinya.