Jiwa Entrepreneur yang Terperangkap

Copy of DSC09235Dalam banyak kasus, orang meyakini bahwa sesuatu yang berharga berada di luar dirinya. Karena itu tidak heran bahwa hari-harinya sibuk memberiperhatian pada segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Sesungguhnya, manusia itu adalah buah tangan karya sang pencipta yang kepadanya diberi anugerah untuk menguasai segala sesuatu yang bukan saja berada di luar dirinya. Akan tetapi di dalam dirinya. Apa yang ada dalam dirinya, sesungguhnya merupakan instrumen yang dapat digunakan mengelola hal-hal di luar dirinya secara berhasil.

Bukan rahasia lagi, bahwa negara yang tidak memiliki sumber daya alam besar dapat menikmati kemakmuran. Nilai saja beberapa negara di sekitar negara kita Indonesia. Singapore, Malasyia yang dari sisi sumber daya alamnya sangat terbatas mampu menikmati tingkat kesejahteraan. Ambil contoh, sumber daya perikanan dan kelautan, sesungguhnya Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki sumber daya perikanan terbesar. Namun mengapa kita tidak dapat muncul sebagai negara makmur, negara pengekspor ikan terbesar ? Bayangkan saja jumlah seluruh penduduk negara Asean itu 40% dari jumlah negara kita. Itu artinya, kita sumber daya manusia yang melimpah.

Tulisan ini tidak sedang mengingatkan kita akan besarnya potensi sumber daya alam, akan tetapi ingin mengajak secara ke dalam melihat potensi kedirian kita dan berpikir cerdas bagaimana memberdayakan diri, mentransformasi diri dari pribadi yang memandang rendah aset kedirian menuju pribadi yang percaya akan potensi penuh bakat atau talenta diri yang jika dapat ditransformasi akan menjadi pemicu pencipta kesejahteraan berkelanjutan.

Faktor yang paling menghambat proses transformasi diri sesungguhnya terletak pada cara pandang atau cara pikir akan diri sendiri. Tidak sedikit jumlah orang yang tidak memiliki citra diri yang baik pada dirinya sendiri. Bahkan, dalam pandangannya sendiri, kepribadiannya ia anggap tidak menarik. Tentu ini sebuah tragedi (penyangkalan) akan keberadaan diri sebagai mahluk yang diciptakan Sang Maha Pencipta dengan berbagai endapan potensi terbaik. Apakah memang demikian adanya?

Manusia pada hakekatnya bertumbuh dalam proses  sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia berinteraksi secara sosial. Mengalami proses-proses komunikasi yang pada hakikatnya adalah proses saling memengaruhi. Apa yang diserap dalam komunikasi sosialnya akan sangat menentukan apa yang nantinya menjadi bahan mengukuhkan keyakinan akan sesuatu tentang dirinya. Apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Sudah bukan rahasia lagi, manusia dalam proses interaksinya akan senantiasa berkomunitas berdasarkan pertimbangan tertentu. Manusia berkelompok berdasarkan keinginan untuk mengembangkan sesuatu dalam dirinya, menyerap sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Secara naluri manusia mencari sesamanya. Mereka akan berkumpul dengan yang sama-sama memiliki keinginan, kepentingan atau kesamaan ciri fisik sekalipun.

Sayangnya, dalam proses bersosialisasi, berkelompok, tidak sedikit yang gagal mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat hubungan sosial yang lebih dari keadaan diri sebelumnya. Lemah daklam keberanian keluar dari kotak sosialnya. Ambil contoh, mereka yang pengangguran lebih senang menghabiskan waktu dengan sesama pengangguran. Mereka yang sama-sama pegawai biasa mengelompokkan dirinya dengan sesama pegawai biasa. Mereka yang berbisnis dalam skala kecil kerap terlihat mengelompokkan diri bahkan cukup banyak yang justru melembagakan diri secara permanen ke dalam paguyuban atau lembaga masyarakat tertentu. Mereka yang termasuk dalam kelompok mahasiswa fakultas tertentu tenggelam dalam kebersamaan dengan kelompok mahasiswa jurusan tertentu. Dampaknya, mereka terbiasa berpikir, merasakan sesuatu berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Tanpa disadari mereka ,menciptakan “blue print” cetak biru masa depan mereka sendiri. Hal ini tentu tidak sepenuhnya keliru. Namun terlalu tenggelam, hanyut dengan menghabiskan waktu dengan cara berpikir tertentu dapat mengakibatkan proses pelambatan perkembangan diri. baik dari segi berpikir maupun bertindak.

Prilaku-prilaku pengelompokkan sosial tersebut dapat mengakibatkan kondisi tertekan atau stress yang seringkali mengecilkan, lebih menyusutkan perasaan keberdayaan. Akibatnya, semakin menghilir perasaan tersebut semakin merapuhkan semangat mentransformasi diri. Manusia sesungguhnya, banyak menyimpan potensi besar jika saja ia secara dini mengetahui siapa dirinya sesungguhnya. Misalkan, manusia tidak menyadari bahwa kita adalah Mahluk Entrepreneur. Mahluk yang suka atau tidak, disuruh atau tidak secara otomatis akan mengupayakan sesuatu untuk survalitas atau kelangsungan hidup kita. Jauh di dalam diri kita sesungguhnya sedang terperangkap Jiwa Entrepreneur. Jiwa dari seorang yang sesungguhnya dapat menghadirkan diri sebagai pelaku-pelaku usaha yang baik, berhasil. Tanggungjawab kita adalah membebaskan jiwa tersebut dalam keterperangkapan diri yang biasanya disebabkan oleh cara berpikir kita, prilaku keseharian.

Sebuah peribahasa bertutur, Anda adalah dengan siapa anda bergaul dan dengan buku apa Anda membenamkan diri. Ingin membebaskan jiwa entrepreneur Anda ? Sebaiknya mulailah memilih buku bisnis terbaik, teman terbaik, komunitas terbaik.